I Love U but Why are U So Toxic?
Bagaimana cara memberitahu seseorang
bahwa kau sangat mencintainya, sekaligus tak ingin berlama-lama berada di
dekatnya?
Beberapa hari lalu sayup-sayup
kudengar lagu bertajuk Bertaut dari Nadin Amizah mengalun begitu dalam dan
menakjubkan. Ini aneh. Bagaimana tidak? Aku tidak punya ketertarikan lebih pada
lagu-lagu bergenre cukup baru yang katanya sedang naik daun itu. Jika ada
sekali-dua kali temanku memutarnya, paling-paling hanya kudiamkan saja sambil
membatin, ‘selera musik yang aneh’.
Bun, kalau saat hancur ku
disayang
Apalagi saat kujadi juara
Bum! Liriknya jauh menghujam jantungku. Bunda siapa yang tidak merawat
putrinya di masa-masa saat ia terpuruk dalam kehancuran? Dan, bunda siapa yang
tak henti mengelu-elukan segudang prestasi putri kesayangannya? Banyak. Dan yang
pasti bukan bundaku.
Ya. Bagaimana caraku berkisah mengenai hubungan pelik antara kami berdua?
Apa dari cara Mami (begitu caraku menyebut) menjelaskan hadist-hadist dari
kitab yang melegitimasi segala bentuk kekerasan dalam mendidik anak? Atau, perlu
kudeskripsikan bagaimana leluasanya Mami memukul hampir sekujur tubuhku hanya
karena tak mau makan, mandi, atau sebab kenakalan kecil lainnya. Aku? Tentu
menangis berlama-lama karena selain cengeng, menerima pukulan benda keras
hampir setiap hari adalah cara mendidik yang sulit kucerna ketika masih berusia
belia.
Aku memahami dengan baik, Mami memang terlahir dalam keluarga yang sangat
konservatif sehingga begitu tingginya menjunjung dogma-dogma keagamaan. Itu
bukan kabar buruk tapi, bisakah kau bayangkan bagaimana Islam yang sangat lembut
itu berubah menjadi kaku jika hanya dipandang dari satu sudut pandang?
Sekali-dua kali Mami mengisahkan kepiluan masa kecilnya yang jauh lebih
parah ketimbang apa yang kualami. Matanya menerawang jauh, seakan memunguti
kepingan kecil cita-citanya yang kandas oleh kerasnya perangai dan pemikiran
kakek. Sampai di sini aku menarik kesimpulan; Mami adalah korban dari perpaduan
sistem keos: pola keberagamaan yang kaku, pola asuh yang tidak ramah pada
kesehatan mental anak, juga buruknya relasi kuasa timpang.
Sedikit banyak paham atau tradisi pola asuh itu diwarisi Mami tanpa ada kemajuan
secara signifikan. Ia tetap teguh dengan tuntunan pola asuh anak seperti yang
termaktub dalam kitab. Semasa muda, Mami pernah belajar kitab di Kudus, dan naasnya
beliau menjumpai pengajaran kitab yang cukup konservatif dan kolot. Mami mungkin
tidak menyangka bahwa luka lebam di tubuh putrinya tak hanya melukai fisik. Lebih
jauh luka itu bisa mencederai cara sang putri melihat dunia berikut relasi dan
cara berkomunikasi yang benar.
Kemungkinan terburuk bisa jadi jatuh pada kesalahan ke tiga: Mami terlalu
mendewakan otoritas sebagai orangtua. Aku pernah terlibat dalam diskusi panjang
mengenai hal ini. Waktu itu adalah ketika aku memutuskan untuk melanjutkan
studi di Yogyakarta. Mami menentang keras dan memaksaku kuliah di daerahku saja
sambil tetap menemani beliau di rumah. Bisa kau bayangkan bagaimana aku mampu
hidup dengan sosok yang dengan senang hati mengkerangkeng kedua tangan dan
kakiku? Ia selalu merasa mempunyai kuasa mutlak atas segala keputusan besar
dalam hidupku. Responku saat itupun tak kalah bodoh: aku memilih menangis dua
hari satu malam dengan bayangan manis Mami akan menyerahkan restunya. Haha.
Restu itu tetap tak kudapatkan bertahun-tahun sesudahnya, sehingga
begitulah. Kehidupan perkuliahanku terasa begitu pelik untuk ukuran gadis lemah
sepertiku. Rasa benciku terhadapnya kian tumbuh subur setiap hari, dan kini aku
hanya mampu melihat sesosok ibu sebagai penghalang terbesar dari segala macam
impian dan cita-citaku. Bagiku bukan hal yang aneh ketika dengan
terang-terangan aku menolak pernikahan karena besarnya kekhawatiranku: Mami
adalah aku di masa depan.
Semalam Mami singgah ke lelapku. Ia sedang melukis potret dirinya begitu
indah dengan kuas. Mami terlihat bahagia tapi, mengapa senyumnya kurasa begitu
getir? Sorot matanya tak membahasakan hal lain selain kesunyian. Ah, usiaku
hampir menyentuh seperempat abad. Bertahun-tahun sudah aku menciptakan jarak
darinya dengan motif pendidikan atau apalah itu. Ia menua. Tapi aku tak kunjung
dewasa. Aku tak kunjung memahami bahwa setiap garis kerut yang semakin berlipat
di wajahnya adalah karenaku juga. Karena sikap pemberontakku yang sulit
dipahaminya, kurasa.
Mam, aku sayang Mami. Tapi bagaimana cara kita berbahagia bersama?

Komentar
Posting Komentar