Comple(ica)te(d)
Kita adalah dua yang pernah menjadi satu. Kau tahu? Denganmu kangenku rasanya lain. Kangen yang mencukupkan, seberapa banyak aku ingat tentang dirimu. Bagaimana tidak? Suaramu adalah kembang api, yang meledak di angkasa kepalaku. Ketika jatuh ke bumi, aku memunguti diriku sendiri, di dalam dirimu.
Oh, iya. By the way kabarku tidak buruk. Tidak baik pula. Aku ya masih seperti ini. Kadang feminis, kadang kangen kau. Masih menyebalkan kok. Masih suka mengkhayalkan hal-hal yang lucu juga; tentang hubungan kita yang kandas contohnya. Sekedar info saja, rasa pempek di jalan Nologaten itu masih kau, belum berubah.
Di perjalanan kala itu kita pernah meminta untuk tak saling meninggalkan. Tapi apa mau dikata, jalan hidup terlalu rapuh. Adalah kesepakatan kita untuk saling melepaskan genggaman. Tidak mengapa, perjalanan-perjalanan yang ada kaunya itu sangat menyenangkan jika kuresapi. Kau dengan relanya berkenan dicintaiku. Atau dengan repotnya sayang padaku.
Kutahu kau kini di ambang perih, begitupun aku yang merasakan dari sisimu yang lain. Tapi kumohon jangan tanyakan apa-apa perihal perpisahan ini. Cukup kau tahu, aku tidak memandangi diri lagi di cermin. Sebab besar takutku melihat bayanganmu di air mata ini. Sebegitu sedih putus cinta denganmu. Demikian aku merasakannya.
Jika di lain hari kita bertemu, aku berjanji telah hilang cemasku. Kekhawatiranku kelak telah menjadi doa. Agar di hatimu, kelak kau temukan ketenangan dari dia yang kau sebut "kesayangan". Biar tidak lagi kita sedekat nadi, sayangku utuh kujelmakan sebagai kawan. Tidak ada yang ingin kuulang-ulang dari kita yang telah lewat.
Jika di lain hari tawamu merekah dan dengan siapapun kau menghabiskan hidup, kumohon berjanjilah untuk menggenggam kebahagiaannya, sebagaimana genggam terakhir saat melepasku.
Sebenarnya amat susah aku bersikap seperti tidak ada apa-apa, sedang di sana kau bersamanya merakit perahu menuju pulau yang kalian namakan bahagia.
Eiit, tapi itu dulu. Ketika aku berpegang teguh pada, "jika kita saling mencintai, maka harus saling memiliki." Tapi semenjak kenal Rabiah al Adawiyah, maka kini... jika cinta, cinta saja sudah...
Di akhir kata, tidak lagi aku mau kau perjuangkan, tapi cukupkan aku untuk tahu bahwa kau berjaga diri. Terima kasih untuk semuanya atas semaumu untuk mencintai semuaku.
-Lav i am in-
Afkar
-Lav i am in-
Afkar

Ada gerimis yg ingin diwisuda tapi tak juga purna
BalasHapusMacam yang nulis pulak yaa, gak kelar-kelar kuliahnya 😂
Hapus