Yogyakarta, 1 Mei 2018
“Sudah pulang ngelesin, San? Tadi lewat jalan
Solo?” dari seberang terdengar sayup-sayup suara supporter sepakbola sedang
ribut mendukung tim favoritnya. Pasti volume televisi cukup tinggi hingga aku
bisa mendengar jelas teriakan-teriakan mereka.
“Kamu di kantor polisi? Kamu ikut
aksi demo di pertigaan kampus kan? Jangan mengalihkan pembicaraan!” nafasku
memburu.
“Iyah, tadi ikut ke sana sebentar. Dari
0 km kami bergerak ke pertigaan kampus. Awalnya aksi berjalan damai sampai, aku
melihat sekomplotan mahasiswa asing memakai penutup kepala menyelinap. Lama-lama,
tuntutan yang mereka teriakkan makin melebar dan gak jelas arahnya kemana. Keadaan
gak kondusif lagi. Sebelum bom molotov itu meledak, aku sudah
menghindar dari area kampus. Kukira pasti mereka yang ditangkap.” suaranya
dalam namun tenang. Seolah tak terjadi apa-apa. Kenapa dalam keadaan begini ia seperti baru saja bangun dari tidur siang?
“Tapi katamu tadi siang hanya ikut
aksi di 0 km. Kalau kamu kenapa-kenapa aku gak akan maafin diriku sendiri!”
“Sania tenang, sayang. Kawan-kawan sudah
pindah ke Blandongan, tapi aku gak akan kesana. Bergerombol dalam jumlah banyak
seperti itu bisa mengundang kecurigaan. Siapa tahu para polisi menggeledah sampai ke
Sorowajan.”
Aku menghela nafas panjang.
Begitulah ia. Terkadang cukup ceroboh untuk ukuran mahasiswa semester tiga.
“Kenapa harus ikut demo sih? Emang
itu satu-satunya cara menyelamatkan para buruh?” aku mulai mengomel sembari memajukan
bibir.
“Hari ini hari besar, San. Hari
Buruh Internasional. Diskusi saja tidak cukup untuk menyelamatkan nasib para buruh
yang terus ditindas. Apalagi dari kawan-kawan aktivis dan banyak elemen organisasi
masyarakat juga ikut setuju melancarkan aksi. Hari ini momen yang tepat. Kita
tidak boleh bungkam!” suaranya meninggi menandakan semangat, yang juga bercampur amarah.
“Iya. Tapi kan pasti ada cara lain
selain ikut demonstrasi.” aku tak mau kalah.
“Aku ini, ya, siapalah aku ini? Belum
ada jabatan, otoritas, ataupun prestasi apapun yang kupunyai. Kalau
kamu gak bisa melihat aku kelaparan dan nelangsa, aku juga gak akan bisa
melihat buruh bangsa ini bernasib demikian. Kita ini manusia, kan? Manusia harus
bisa memanusiakan manusia. Aku akan terus berjuang sampai titik darah
penghabisan!”
Aku tersenyum kecut menyembunyikan rasa
bangga. Tak salah lagi kakak dan bunda menelepon saban waktu untuk sekedar
memastikan sikap keras kepalanya itu tak membahayakan dirinya sendiri.
“Afkar… Boleh tanya sesuatu?”
kupelankan suara serendah mungkin.
“Gimana, sayang?”
“Kenapa kamu sangat peduli dengan
kehidupan buruh, padahal, orangtuamu seorang pejabat? Ehm, maksudku begini. Biasanya,
seperti yang kubaca, kebanyakan aktivis memperjuangkan apa yang dulunya menjadi tekanan dalam keluarganya. Tapi, kamu, kamu sangat berkecukupan.”
“Haha. Aku berjuang demi bangsaku,
San. Demi kedamaian yang digadang-gadangkan. Jika Indonesia hendak memajukan
peradabannya, itu dimulai dari kesejahteraan rakyatnya. Kualitas hidup mereka,
kualitas pendidikan, dan masih banyak lagi. PR kita sangat banyak, kamu tahu?”
nada bicaranya layaknya sedang berkhotbah di atas mimbar, seperti yang sering
ia lakukan pada sesi-sesi diskusi bersama.
“Maaf. Pikiranku kalut ketika
melewati jalan depan kampus kita. Ban-ban masih terbakar, pos polisi hangus,
asap mengepul di mana-mana, jalan masih ramai, dan puluhan polisi masih
berjaga-jaga. Meski sudah menjelang maghrib, kurasa kericuhan belum benar-benar usai.
Apalagi tadi ada tulisan di gerbang, bawa-bawa Sultan segala. Nanti kalau
kalian dikeluarkan dari kampus bagaimana?”
“Sudah.. Itu hanya ulah oknum yang
gak bertanggungjawab. Aku yakin polisi sudah menindaklanjuti. Kamu yang tenang,
ya.” Kita sama-sama terdiam beberapa saat.
“Maafkan aku…” gumamku lirih.
“Kenapa?”
“Aku juga belum bisa berbuat apa-apa untuk negeri ini. Jangankan
kepada negeri, sebagai kekasih saja aku masih terlalu sibuk dengan kuliah, kerja, dan organisasi. Aku malu belum bisa bertindak sejauh kamu.”
“Hush! Kamu tidak menjadi cewek
manja itu juga udah cukup. Jalan perjuangan setiap orang memang
berbeda-beda. Toh kamu juga gak pernah ngecewain. Maka dari itu, besok kalau sudah bisa jadi 'orang', kita berjuang bareng, ya.”
“Iyah!” aku tersenyum mantap.
“Udah clear ya. Besok kuliah pagi,
kan? Jangan lupa makan. Kamu gaboleh sakit.”
“Haha. Siap Pak Presiden!”


Komentar
Posting Komentar