Menjadi Feminis Kekinian Ala Amina Wadud



Kalau kamu sedang gemas-gemasnya menyimak kasus penindasan perempuan dan berencana menjadi sang penyelamat, ada  baiknya kamu mulai membaca pemikiran para feminis muslim. Kenapa harus muslim? Baiklah. Begini, meski gagasan feminis atau pembebasan perempuan memang berasal dari Barat, sebenarnya literatur Islam mencatat banyak tokoh feminis, hanya saja sebagian tidak mendeklarasikan diri sebagai seorang feminis. Diantara tokoh-tokoh tersebut adalah Fatima Mernissi, Riffat Hasan, dan Amina Wadud. Mereka membawa semangat  yang juga diusung Islam, yakni semangat pembebasan perempuan. Jangan lupakan sejarah bahwa dulu Nabi Muhammad adalah seorang feminis pertama yang merangkul para perempuan dari tradisi Arab yang, kamu tahu lah. Sangat patriarkis.
Sekitar belasan tahun lalu, pernah ada seorang perempuan yang menjadi imam shalat Jum’at. Wah, tidak percaya? Tepatnya pada tanggal 18 Maret 2004. Sama seperti kamu, kaum muslim sedunia juga geger menanggapi peristiwa itu. Dialah Amina Wadud. Siapa yang tak mengenalnya? Salah satu pegiat tafsir adil gender tersohor berkebangsaan Amerika-Afrika. Ia berhasil mendobrak konstruksi keagamaan selama 14 abad yang mengatakan bahwa perempuan tidak bisa menjadi imam. Hah? Siapa bilang?
Kata “imam” direkonstruksi Wadud, yaitu bermakna seseorang yang bertugas sebagai koordinator gerakan ibadah kolektif. Oleh karena itu, beliau menekankan bahwa dalam shalat, setiap manusia adalah imam bagi dirinya sendiri. Hendaknya shalat tidak semata dianggap sebagai kewajiban, tetapi justru cara berkomunikasi dengan Tuhan. Maka tidak heran siapapun bisa menjadi imam, apalagi dengan fakta yang memperkuat bahwa setiap manusia adalah khalifah fil ardh yang hendaknya bersikap bijak.
Sesaat sebelum melaksanakan shalat Jum’at yang penuh kontroversi itu, Wadud menegaskan isu ketidakadilan gender sebagai sumber masalah besar dalam Islam. Sayangnya kaum muslim begitu terpengaruh oleh sejarah penafsiran, yang sangat terbatas baik metode maupun pendekatannya. Dampaknya ya begini, peradaban Islam nggak maju-maju. Beliau juga menambahkan bahwa menjadi imam hanyalah simbolisasi dari berbagai kemungkinan yang bisa dilakukan Islam ke depannya.
Seperti kebanyakan aktivis yang memiliki latar belakang sebagai korban penindasan, Wadudpun demikian. Penyebabnya tak lain karena selain beliau adalah perempuan yang dimarjinalkan, juga berkulit hitam. Kita tahu sendiri di Afrika pada saat itu menegakkan politik apharteid, alias politik yang mengamini supremasi ras kulit putih atas kulit hitam. Perlakuan seperti itu semakin memperteguh Wadud dalam menggaungkan kesetaraan.
Gagasan Amina Wadud berangkat dari banyak kegelisahan mengenai posisi perempuan yang selalu disudutkan, bahkan dalam Islam itu sendiri. Bagaimana bisa setelah kepergian Muhammad, para penafsir klasik justru menguasai tafsir al-Qur’an dengan paham patriarkisnya yang sangat bias gender itu? Usut punya usut, ternyata budaya patriarkis yang lebih mendahului turunnya al-Qur’an masih ikut tercampur aduk dengan makna asli al-Qur’an. Belasan abad sudah berlalu. Sudah saatnya penafsiran yang ‘kadaluarsa’ itu didaur ulang.
Amina Wadud memilih hermeneutika yang dinilai cocok untuk mengupas permasalahan ini. Metodenya tersebut dinamai hermeneutika tauhid. Nah, bagaiamana cara kerja hermeneutika tauhid ini? Adalah sebuah kesepakatan bersama bahwa semua manusia menempati posisi yang sama di depan Tuhannya. Yang menjadi pembeda di antara mereka adalah amal saleh. Tuhan adalah zat yang transenden, berbeda dengan umat manusia. Jadi, jika ditemukan dalam suatu struktur masyarakat akan adanya hierarki tentang lebih mulianya posisi laki-laki atas perempuan, hal tersebut sudah mengkhianati prinsip ketauhidan. Singkatnya, jika kamu mengatakan laki-laki derajatnya lebih mulia dibanding perempuan hanya karena jenis kelaminnya dan bukan karena ketakwaanya, bisa jadi kamu musyrik! Wow wow wow!
Putri seorang pendeta Kristen ini juga mengusulkan empat cara dalam melihat ayat-ayat al-Qur’an. Pertama, membaca ayat-ayat al-Qur’an sesuai pengertian dasarnya. Kedua, memahami pendapat-pendapat mengenai bagaimana ayat-ayat tersebut digunakan. Ketiga, menginterpretasikan kembali berdasarkan perspektif alternatif. Dan yang terakhir, berkata tidak pada ayat-ayat yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Apakah ini maksudnya Amina Wadud menentang kalam ilahi? Kita ambil contoh penolakan Wadud pada ayat al-Qur’an yang menjelaskan hukuman potong tangan bagi pencuri, juga ayat yang melegalkan pemukulan terhadap istri. Bagi Wadud, subjek yang dimaksud sangat sulit untuk dibahas. Jalan keluarnya tentu saja dengan reinterpretasi kritis.
Jadi, bagaimana menurutmu tentang gagasan Amina Wadud? Menarik, biasa aja, atau bahkan terlalu berlebihan? Yah, bagi kamu yang terlahir dalam keluarga dengan kesadaran adil gender tinggi, bisa aja kamu melihat pemikiran Wadud terlalu berlebihan. Tapi dalam pandangan saya, mengingat latar belakang Amina Wadud yang diiringi tangis darah penindasan perempuan, tak heran gagasannya begitu kontroversial.
At least, pemikiran Amina Wadud cukup menarik untuk dikaji lebih lanjut. Apalagi bukan hanya isu perempuan yang diangkat. Lebih luas lagi, Wadud menyinggung pembaruan tafsir dalam bidang sosial, moral, ekonomi, dan politik modern. Demikianlah beberapa pemikiran Amina Wadud yang bisa kita adopsi dari beberapa buku karya beliau. Di Indonesia sendiri, masih banyak terjadi kasus penindasan perempuan. Kalau kamu melihat penindasan di depanmu, akankah diam saja atau melawan seperti Amina Wadud?

Komentar

Postingan Populer