Reuni



            Kemarin teman-temanku dari bangku sekolah membuat janji berjumpa. Aku yang sepanjang tahun tak pernah bisa atau, sengaja membuat alasan karena takut entah oleh apa, mengiyakan saja. Mereka masih jenaka dan suka bercerita apa saja: keramaian wisuda, beasiswa lanjutan universitas ternama, pekerjaan baru, perkiraan besaran gaji, bisnis yang maju, pencapaian pasangan, perkembangan motorik anak, undangan dari kekasih masa lalu, dan sedikit cara memastikan satu tempat di surga.
Semua begitu nyata hingga aku masuk dalam cerita. Meski hanya terdiam dan sesekali menyahut lalu tersenyum ketika ditanya, aku menangkap semburat-semburat keceriaan tergambar jelas di sudut bibir mereka. Kecemasan-kecemasan masa depan yang dulu kami risaukan teramat sangat, telah berganti dengan pencapaian yang kian purna. Aku berbahagia untuk mereka, untuk setiap pencapaian hidup yang luar biasa.
            Empat jam berlalu dan salah seorang dari mereka mengantarku pulang. Aku mengucap terima kasih dan segera menutup daun pintu. Namun belum apa-apa aku sudah kembali merindukan teman-temanku.
Terbayang niatku mengajak berjumpa lagi untuk menceritakan hal-hal luar biasa dalam hidupku: nama-nama hewan peliharaan, daftar lagu favoritku, jumlah rasi bintang, kemajuan teori penafsiran, puisi-puisi baruku, organisasi yang baru kumasuki, pun yang kulakukan saat senggang. Atau juga kebiasaanku mengamati orang-orang, warung kopi baru yang jadi langganan, caraku mengganti galon air, kemampuanku membaca seseorang dari caranya menatap, yang kupikirkan ketika malam tiba, lelucon-lelucon baru yang kubuat, ketertarikanku pada dunia konspirasi, hingga obsesiku dengan fisiologi dan klimatologi. Tentu tak lupa tekad bulatku untuk tetap hidup mandiri. Ah, ternyata banyak sekali hal yang belum kuceritakan. Aku berbahagia untukku, untuk hidup dan waktuku sendiri yang luar biasa.
            Tapi aku sadar hari telah larut dan masih ada hari esok untuk pertemuan yang lain, cerita yang lain, kekaguman yang lain, serta rasa haru yang lain. Dan akupun sadar: esok hari akan ada cerita yang lebih baik untuk didengar. Kutitipkan salam pada daun pintu bahwa, zaman boleh kian gaduh. Hal-hal baik boleh terganti prasangka dan bisik-bisik. Tapi yang akan tetap setia mewaktu adalah aku, diriku: menjadi gemerisik yang selalu bernyanyi untukku.

Komentar

Postingan Populer