Di Balik Senyuman Lintang
Brak !
Berulang kali terdengar suara kaki-kaki kasar mendobrak pintu gubuk kami dengan tak sabar. Pintu yang terbuat dari kayu lapuk itu akhirnya menyerah diserang sepatu-sepatu hitam yang kuat. Beberapa serdadu menerobos masuk dan menendang apa saja yang menghalangi langkahnya. Kasihan kucing kurusku yang ikut menikmati belaian kasar salah satu kaki itu.
Mereka memandangi dengan bengis antara aku dan kakek. Api di mata mereka berkobar-kobar menandakan amarah besar. Tentu saja aku sudah mengerti maksud mereka. Untuk apa lagi kalau bukan untuk mencari si cecunguk itu? Yah, warga kampung menyebutnya kacung Belanda. Si pengkhianat. Berita kaburnya Lintang alias cecunguk itu kudapat dari Amir, temanku. Aneh. Kenapa juga cecunguk itu harus kabur? Bukankah segelas susu hangat dan roti berlapis keju lebih nikmat daripada susah payah memikirkan nasib bangsa dan tanah airnya?
Kulihat serdadu-serdadu itu meninggalkan gubuk kami dengan teriakan yang sulit kufahami. Bisa kutebak mereka mengeluarkan sumpah serapah dan perkataan kotor, terutama saat nama Lintang sering disebut. Atau bahkan mungkin m ereka justru mengutuki kami. Tapi aku masih heran pada kakek. Lelaki tua yang kurus itu justru mengulum senyumnya pada situasi kacau seperti ini. Setelah itu gubuk kecil kami begitu senyap. Kakek terduduk di kursi yang tua renta di makan usia.
“Kenapa kakek terlihat senang dengan berita kaburnya Lintang?” tanyaku penasaran.
“Bersiaplah, Barra. Lembaran baru segera terbuka, mengakhiri goresan kelam di bumi pertiwi. Perang segera dimulai. Genderang bersedia ditabuh.”
“Maksud kakek?”
“Cepat bersihkan gudang persembunyian!” perintah kakek masih dengan senyum yang sama. Yang dimaksud gudang persembunyian oleh kakek adalah sebuah lubang bawah tanah. Entah kenapa setiap rumah membuat lubang itu. Kata kakek suatu saat jika perang sudah dimulai, lubang itu bisa dijadikan tempat persembunyian yang aman.
“Apa ini ada hubungannya dengan si cecunguk itu?”
“Jelas ada. Barra, kakek tidak suka kau memanggilnya begitu. Sekali mutiara tetap mutiara meski terselimut lumpur!” suara berat kakek penuh dengan teka-teki.
Aku semakin bingung. Kenapa Lintang dihubungkan dengan mutiara? Ah, entahlah. Ucapan kakek tadi jelas menyisakan tanda tanya besar di kepalaku.
***
Hujan deras mengguyur desa kecilku malam ini. Ditemani sebuah lampu minyak, aku dan kakek menikmati menu makan malam dengan lahapnya. Sedikit nasi, dua potong tempe goreng dan sambal terasi, cukup mewah. Tak seperti temanku kebanyakan yang hanya bisa menikmati nasi seminggu sekali. Entah mengapa makan malam kali ini terasa begitu nikmat. Perutku masih meminta diisi kembali dari sepiring nasi yang kami makan berdua.
Suara gaduh di luar sana tak mau kalah. Samar-samar suara baku tembak dan deru mesin tank semakin menggila. Ya, perang. Persis seperti kata-kata kakek tadi siang. Tentara republik telah turun dari gunung dan dengan gigih berani melawan serdadu Belanda. Betapa bangganya diriku terhadap mereka. Terlebih seperti cerita kakek, selama ini kedua orang tuaku meninggalkanku untuk memperjuangkan tanah air. Semakin deras hujan mengguyur saat malam kian larut.
“Kakek, aku takut.” Bisikku dalam dekapan kakek. Kami bersembunyi di ruang sempit yang menurut kakek aman dari gangguan yang bisa saja menghampiri.
“Jangan gentar, Barra. Kakek yakin ayahmu di sana takkan sia-sia mempertaruhkan nyawanya. Allah bersama kita. Pasukan malaikat-Nya akan meluluhlantakkan pasukan serdadu itu.”
“Ya Allah, lindungilah ayah dan ibu. Biarkan kemenangan berpihak pada kami.” Do’aku lirih.
***
MERDEKA! MERDEKA!
Gegap gempita kemerdekaan terdengar hampir di seluruh penjuru. Pagi ini, aku benar-benar merasa menjadi manusia baru. Manusia merdeka. Manusia yang terbebas dari belenggu kebiadaban bangsa-bangsa tak bermoral.
Matahari masih mengintip di ufuk timur saat aku termenung sendiri di teras. Sisa hujan semalam tercium harum. Maklumlah, berbulan-bulan lamanya desaku tak tesentuh air hujan. Mungkin itulah yang disebut hujan penuh berkah di malam kemenangan. Puluhan bahkan ratusan orang melewati jalan di depan gubukku sambil terus meneriakkan adzan dan gema kemerdekaan.
Dhanis dan Amir datang menghampiriku.
“Hei Barra! Kau tak ke lapangan?”
“Untuk apa?”
“Dasar anak kecil! Merayakan kemenangan kita lah!” sahut Dhanis.
“Tapi aku belum ijin pada kakek.”
“Ayolah! Kau sudah sholat subuh kan? Jaka dan Rosyad sudah di sana.”
Genggaman tangan Amir dan Dhanis begitu kuat menyeretku. Akhirnya kami ikut menyatu di jalanan berlumpur. Langkah-langkah kaki kami yang tak beraturan seringkali menyulut kemarahan orang-orang di sekeliling kami.
“Eh, kau sudah mendengar kabar tentang Lintang?” sela Amir.
“Kenapa?”
“Ah, nanti kau juga tahu.”
Ada apa lagi dengan kacung itu? Apa dia terbunuh? Ataukah ditawan beramai-ramai seluruh warga? Haha. Itulah ganjaran mengkhianati tanah air. Kebencianku padanya semakin memuncak.
***
Ingatanku melayang dalam waktu beberapa minggu silam. Sebelum Lintang kabur, dia sempat menghampiriku dan teman-temanku yang sedang bermain di tepi sungai. Senyumnya terlihat tulus saat menyerahkan sebuah bingkisan berisi roti. Tentu saja roti adalah barang langka bagi rakyat jelata seperti kami. Sapuan lembut sinar mentari yang terhalang rimbunnya pepohonan di pinggir sungai berair jernih mengiringi kepergian Lintang dan sepeda kesayangannya.
Kami kebingungan. Mau diapakan roti itu? Amir menerka pasti ada racun di dalamnya. Dia berinisiatif membuang rotinya ke sungai.
“Jangan! Kasihan ikan-ikannya. Pasti akan mati keracunan dan sungai kesayangan kita ini tercemar!” bantah Dhanis.
“Bagaimana kalau kita berikan saja pada orang yang lewat saja?” usul Rosyad.
“Hei, kau juga mau membunuh orang seperti kacung itu?” jawab Amir.
“Lalu, dikubur saja?”
“Jangan! Itu akan merusak tanah kelahiran kita!” sahut Amir.
Tiba-tiba Rosyad memungut bungkusan itu dan melemparnya ke udara. Begitu sampai di tanah, ia menendangnya bak pemain sepak bola profesional. Disusul Amir dan yang lainnya, dalam sekejap bungkusan itu menjadi bulan-bulanan kami. Begitu puasnya kami melancarkan tragedi pemusnahan “bungkusan racun” itu hingga tak berbentuk.
Itu masih belum seberapa daripada ide gila Amir yang kami lancarkan dua minggu lalu sebelum berita kaburnya Lintang. Memang usia Amir yang paling tua di antara kami berlima seolah menobatkannya menjadi pemimpin. Bukan sepertiku yang baru berusia 14 tahun, sehingga mau tak mau hanya dijadikan sosok pengekor dan anak bawang.
Di suatu sore, kami mencegat Lintang di sebuah tikungan kecil di pinggir desa yang biasa dilewatinya. Di tangan kami masing-masing tergenggam beberapa butir batu dan ketapel. Rimbunnya pohon pisang dan semak-semak belukar sempurna menjadi benteng persembunyian kami.
Hampir saja kami menyerah setelah sejam menunggu tanpa hasil. Jujur saja, sebenarnya aku tak tega melukai Lintang. Aku juga membencinya karena dipengaruhi teman-temanku. Hingga saat Lintang melintas dengan sepedanya, aku masih terdiam tak berkutik. Tegakah aku melakukan hal buruk ini?
Lamunanku pecah saat terdengar teriakan Lintang. Satu tembakan tepat mengenai dahinya. Dia jatuh terlempar dari sepeda. Seketika aku menoleh ke sekeliling. Astaga! Teman-temanku telah berlari terbirit-birit meninggalkanku. Ah, Lintang. Aku ingin menolongmu. Tapi itu tak mungkin. Bagaimana bisa aku membantu musuh besarku?
***
“Hei nak! Hati-hati kalau berlari! Bisa-bisa kau jatuh terinjak ratusan orang!” seru seorang lelaki paruh baya di sampingku. Aku terkejut. Tak terasa kami sudah sampai di lapangan. Riuh teriakan jiwa-jiwa yang baru saja meraskan kebebasan begitu membahana. Senyum-senyum kemenangan mengisi setiap sudut, melengkapi megahnya kibaran sang merah putih.
Pandanganku tertuju pada sekelompok anak-anak tangsi yang kemarin mengeroyokku dan Dhanis. Tak seperti kemarin saat mereka membusungkan dada saat menendangi kami, kini wajah mereka seperti kertas koran pembungkus cabai di dapurku. Tangan mereka terikat di tiang dan dijaga oleh beberapa pemuda. Aku hampir saja menjitak kepalanya kalau saja Amir tak mencegahku.
“Lihat! Itu dia pahlawan kita!” tangan Amir menunjuk pada salah seorang pemuda yang menyandang senapan dan ikat kepala merah putih. Ya Tuhan! Aku tak asing dengan wajah itu. Dia dikelilingi Jaka dan Rosyad. Mereka tertawa begitu bahagia. Hei, bukankah dia salah kostum? Harusnya kacung itu ikut di tangkap bersama para anak tangsi tadi.
“Hei kalian! Kemarilah!” teriak Lintang sembari mengembangkan senyumnya.
“Kak Lintang! Pahlawanku!” teriak Dhanis dan Amir bersamaan.
Pahlawan katanya? Aku tak salah dengar? Aku semakin tak mengerti. Amir dan Dhanis berhamburan dan bergantian memeluk Lintang. Aku terpaku.
“Barra! Kenapa? Kau masih membenciku ha?”
Seketika aku tersadar. Bulir-bulir bening berjatuhan di kedua pipiku. Rasa bersalah memenuhi setiap rongga dadaku, hingga bibirkupun bergetar hebat saat menyebut namanya.
“Kak..Kak Lintang!” aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan hangat seorang pahlawan muda yang usianya hanya terpaut empat tahun dariku.
“Sudahlah, jangan seperti anak kecil begitu.” Diusapnya air mataku dengan lembut.
“Kau anak hebat, Barra.” Tambah Lintang.
“Kau lebih hebat, kak.” Isakku.
“Kau anak seorang pejuang besar. Kau lihat pemimpin barisan di sana? Dialah sosok yang berjasa besar untuk negeri ini. Dia ayahmu!”
“Benarkah?” kata-kata Lintang menggetarkan hatiku.
“AYAAAAH!” tanpa berfikir panjang, kuayunkan kakiku menjemput sosok terhebat yang ku punya.
***
Lewat cerita ayah, aku baru mengenal sosok Lintang yang sebenarnya. Hidup Lintang sebatang kara sejak kecil. Ayahnya gugur sebagai pahlawan. Sedangkan ibunya meninggal sesaat setelah melahirkannya. Sejak saat itulah kakek mengasuhnya. Karena ketulusannya, ayah mengikutsertakan Lintang menjadi tentara republik. Dan karena keberanian serta kesetiaannya pula, dia mendapat kepercayaan sebagai mata-mata dengan menjadi kacung Belanda. Tak heran dulu para serdadu menggeledah seisi desa saat menyadari pengkhianatan Lintang.
“Ah, Lintang. Andaikan aku tahu sejak dulu, mungkin kau tak harus menjadi korban bulan-bulanan kenakalan kami. Kau tahu? Kau selalu menjadi mutiara terindah meski terselimut lumpur.” Batinku penuh haru dan sesal.

Komentar
Posting Komentar